Jumat, 04 Desember 2009

Notes'

A2DC

( Ada A-Bank Di Cerpenku )

Sore itu nampak begitu cerah, udaranya segar dan hamparan sawah hijau membentang sejauh mata ini memandang, membuat siapapun yang melihat tak pernah bosan tuk menikmati keindahannya. Itulah suasana Kampung Langensari di sore hari, kampung halamanku yang letaknya tak jauh dari kaki Gunung Gede Pangrango yang indah.

Hari ini adalah hari pertama kepulanganku dari Jakarta, setelah sekian lama terbelenggu dengan sejuta rutinitasku menimba ilmu, kini saatnya aku melepas semua kepenatan itu dengan berkumpul dan menikmati liburan ini bersama keluarga tercinta. Sore hari memang waktu yang istimewa buatku, karena sejak kecil hingga sekarang kebiasaan masyarakat di kampungku tidak pernah mengalami perubahan sedikitpun, walaupun diluar sana banyak hal yang berubah karena tergerus derasnya arus modernisasi namun masyarakat sekitar tetap memegang teguh kebiasaan sosial yang mereka lakukan sejak dahulu kala sampai sekarang ini. Di sore hari biasanya anak-anak, remaja, ibu, bapak, kakek, nenek, tua, muda setelah mandi sore dan melaksanakan shalat ashar, biasanya mereka mengenakan pakaian terbaiknya dan duduk-duduk di depan halaman rumah sembari mengawasi anak-anak bermain bersama-sama. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan untuk mempererat jalinan silaturahmi dan biasanya digunakan juga sebagai ajang bertukar pikiran, curhat, ngerumpi dan berbagi pengalaman setelah seharian mereka melakukan rutinitasnya sambil menunggu waktu maghrib tiba.

Tak mau kalah, setelah mandi dan shalat ashar aku mengajak Ibu untuk sekedar duduk-duduk di kursi kayu yang Bapak buat di halaman rumah, sembari menyapa dan menyalami setiap tetangga yang lalu-lalang, sambil terkadang Ibu mengajak mereka untuk sekedar ngobrol menanyakan kondisi keluarga mereka. Selang beberapa lama terdengar dari kejauhan suara sepeda motor yang melaju ke arah kami, semakin dekat dan kemudian berhenti tepat di depan rumah, yang ternyata Bang Anto dan Mba Surti anak Pak. Kosim temannya Bapak.

Assalamu’alaikum..., apa kabar Bu, Mas?” sapa mereka sembari menyalami kami berdua.

Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah baik Bang, Mba.” Sahutku.

“Lagi liburan ya Mas?kapan sampai?Wah pangling ya, putihan sekarang kalau tinggal di Jakarta?” Tanya Bang Anto sambil duduk di sampingku dan menepuk-nepuk pundakku. Hm.. putihan?? Gak salah Bang?? Kupikir, kulitku malah kini semakin terlihat jauh lebih gelap atau mungkin aku memang putih tapi sedikit putih tua. Atau malah bisa jadi lagi, kalau aku ini benar- benar putih. Eit tapi tetap aku tidak akan mengatakan hal itu padanya, dia bukan tipe orang yang suka becanda juga tuh. Gerutu hatiku.

“Ah Si Abang nih bisa aja, iya aku lagi liburan dan baru sampai tadi malam.” Jawabku sambil tersenyum menutupi segala pemikiran vs kata hati tentang putihnya kulitku.

“Motor baru ya Bang?” tanyaku sembari melihat-lihat motor Bang Anto yang masih terlihat menggoda.

“Iya, Abang baru beli seminggu yang lalu, itu juga dapat pinjaman uang dari Bank, karena bunganya murah lantas waktu itu Abang pinjam uang ke salah satu Bank dekat Kecamatan dengan mengagunkan sertifikat sawah milik Bapak. Ya itu juga Abang lakukan karena Abang sudah tak kuat untuk terus jalan kaki dan naik turun kendaraan umum kalau pulang atau pergi kerja, kan tempat kerja Abang jauh Mas.”

“Ya, beberapa Bank memang menawarkan kredit konsumsi dengan bunga yang kecil. Itu sangat menguntungkan kita Bang, untung saja Abang tidak ketinggalan informasi jadi bisa buru- buru pinjam deh. Tapi Abang jangan senang dulu lho, karena di sisi lain Abang sudah ikut berpartisipasi membuat beberapa pihak rugi dan kehilangan kesempatan sebenarnya. ”

“Lho, siapa yang Abang rugikan Mas? Abang gak mengerti maksudmu? Kan pinjamannya pasti Abang bayar.” Tanya Bang Anto penasaran.

“Begini Bang, kita tahu sekarang ini banyak sekali orang yang punya sepeda motor kan? gampang pula cara memperolehnya, hanya dengan pinjam uang ke Bank beres semua permasalahan. Disamping itu Abang juga tentu tau, di luar sana banyak usaha-usaha kecil dan menengah yang gulung tikar, mereka bangkrut karena kehabisan modal dan sulit mendapatkan subsidi ataupun pinjaman. Seperti apa yang dialami Toko Kerajinan Kulit Pa Kasman. Abang Tau kenapa?”

“Tidak Mas. Memangnya kenapa?” Tanya Bang Anto semakin penasaran.

“Semua itu terjadi karena kebanyakan bank yang ada di kota-kota besar atau di daerah terlalu memprioritaskan dana pinjaman itu hanya kepada sektor-sektor kunsumtif, seperti pembelian barang mewah, rumah dan kendaraan bermotor seperti yang sudah Abang lakukan sebelumnya. Dan juga kebanyakan bank tidak menerapkan aturan atau kebijakan yang selektif mengenai proses peminjaman uang, oleh siapa dan untuk siapa. Karena terlalu longgar akhirnya banyak orang berbondong-bondong datang ke bank meminjam uang hanya untuk keperluan konsumsi mereka. padahal disamping itu para pelaku usaha kecil dan menengahlah yang sebenarnya dirugikan dan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan roda usaha mereka, karena hampir kebanyakan dana stimulan yang ada di bank dialokasikan pada sektor yang salah dan mereka kesulitan mendapatkan dana yang tinggal sedikit itu karena aturan yang berbelit-belit. Akhirnya usaha mereka bangkrut dan ujung-ujungnya PHK, banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan bertambahlah pengangguran. Ya kalo menurutku untuk menyelesaikan permasahan ini hanya pihak Bank-lah yang seharusnya mampu mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang obyektif dan tidak berorientasi pada keuntungan semata tetapi berorientasi kepada perekonomian masyarakat sehingga kebijakan itu nantinya bisa mendorong roda perekonomian menjadi berkembang bahkan lebih maju. Nah itu maksud dari kata-kataku tadi Bang.”

“Ooo begitu ya, Abang jadi mengerti sekarang Mas. Kamu memang cerdas, tak salah Ibumu menyekolahkanmu jauh-jauh ke Jakarta. Abang bangga sama kamu Mas.” Ujar Bang Anto sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Itu semua aku dapatkan dari membaca koran hari ini Bang. Itulah gunanya membaca, pengetahuan kita jadi bertambah. Coba deh Abang baca koran hari ini, ada sebuah artikel yang judulnya “Tanda – tanda kematian sektor riil di Indonesia” , itu bagus kalau kita baca.” Jawabku sambil tersenyum.

“Betul Mas, aku setuju. Harusnya Abang banyak membaca dari dulu, pasti hal-hal seperti apa yang kamu katakan tadi akan Abang tahu sebelumnya. Hmm mulai sekarang Abang akan mulai rajin membaca deh supaya cerdas seperti kamu Mas.” Ujarnya tersenyum sambil menyenggolku.

Langit mulai memerah, sahut azan menggema dimana-mana. Tak terasa waktu maghrib telah tiba. Kemudian kami sudahi perbincangan seru pada sore itu. Mesin motor pun menyala, aku dan Bang Anto kemudian berangkat ke mesjid bersama-sama. Sungguh sore yang indah dan tak mungkin aku lupa.

.

Rabu, 21 Oktober 2009

Notes'

Pematung Raja

Suatu ketika, hiduplah seorang pematung. Pematung ini, bekerja pada seorang raja yang masyhur dengan tanah kekuasaannya. Wilayah pemerintahannya sangatlah luas. Hal itu membuat siapapun yang mengenalnya, menaruh hormat pada raja ini.

Sang pematung, sudah lama sekali bekerja pada raja ini. Tugasnya adalah membuat patung-patung yang diletakkan menghiasi taman-taman istana. Pahatannya indah, karena itulah, ia menjadi kepercayaan raja itu sejak lama. Ada banyak raja-raja sahabat yang mengagumi keindahan pahatannya saat mengunjungi taman istana.

Suatu hari, sang raja mempunyai rencana besar. Baginda ingin membuat patung dari
seluruh keluarga dan pembantu-pembantu terbaiknya. Jumlahnya cukup banyak, ada
100 buah. Patung-patung keluarga raja akan di letakkan di tengah taman istana,
sementara patung prajurit dan pembantunya akan di letakkan di sekeliling taman.
Baginda ingin, patung prajurit itu tampak sedang melindungi dirinya.


Sang pematung pun mulai bekerja keras, siang dan malam. Beberapa bulan kemudian,
tugas itu hampir selesai. Sang Raja kemudian datang memeriksa tugas yang di
perintahkannya. “Bagus. Bagus sekali, ujar sang Raja. “Sebelum aku lupa, buatlah
juga patung dirimu sendiri, untuk melengkapi monumen ini.”

Mendengar perintah itu, pematung ini pun mulai bekerja kembali. Setelah beberapa
lama, ia pun selesai membuat patung dirinya sendiri. Namun sayang, pahatannya
tak halus. Sisi-sisinya pun kasar tampak tak dipoles dengan rapi. Ia berpikir,
untuk apa membuat patung yang bagus, kalau hanya untuk di letakkan di luar
taman. “Patung itu akan lebih sering terkena hujan dan panas,” ucapnya dalam
hati, pasti, akan cepat rusak.”

Waktu yang dimintapun telah usai. Sang raja kembali datang, untuk melihat
pekerjaan pematung. Ia pun puas. Namun, ada satu hal kecil yang menarik
perhatiannya. “Mengapa patung dirimu tak sehalus patung diriku? Padahal, aku
ingin sekali meletakkan patung dirimu di dekat patungku. Kalau ini yang terjadi,
tentu aku akan membatalkannya, dan menempatkan mu bersama patung prajurit yang
lain di depan sana.”

Menyesal dengan perrbuatannya, sang pematung hanya bisa pasrah. Patung dirinya,
hanya bisa hadir di depan, terkena panas dan hujan, seperti harapan yang
dimilikinya.

***

Teman, seperti apakah kita menghargai diri sendiri? Seperti apakah kita
bercermin pada diri kita? Bagaimanakah kita menempatkan kebanggaan atas diri
kita? Ada kalanya memang, ada orang-orang yang selalu pesimis dengan dirinya
sendiri. Mereka, kerap memandang rendah kemuliaan yang mereka miliki.

Namun, apakah kita mau dimasukkan ke dalam bagian itu. Saya percaya, tak banyak
orang yang menghendaki dirinya mau dimasukkan sebagai orang yang pesimis. Kita
akan lebih suka menjadi orang yang bernilai lebih. Sebab, Allah pun menciptakan
kita tak dengan cara yang main-main. Allah menciptakan kita dengan kemuliaan
mahluk yang sempurna.

Dan teman, sesungguhnya, kita sedang memahat patung diri kita saat ini. Tapi
patung seperti apakah yang sedang kita buat? Patung yang kasar, yang tak halus
pahatannya, ataukah patung yang indah, yang memancarkan kemuliaan-Nya? Patung
yang bernilai mahal, yang menjadi hiasan terindah, atau patung yang berharga
murah yang tak layak diletakkan di tempat utama?

Memang, tak ada yang tahu akan ditempatkan dimana patung-patung diri kita kelak.
Karena hanya Allah lah Maha Tahu. Karenanya, bentuklah patung-patung itu dengan
indah. Pahatlah dengan halus, agar kita bisa ditempatkan di tempat yang terbaik,
di sisi-Nya. Poleslah setiap sisinya dengan kearifan budi, dan kebijakan hati,
agar memancarkan keindahan. Susuri setiap lekuknya dengan kesabaran, dan
keikhlasan.

Pahatan yang kita torehkan saat ini, akan menentukan tempat kita di akhirat
kelak. Bentuklah “patung” diri kita dengan indah!

Notes'

Harimau dan serigala

Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan. Luka yang di derita serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari perkampungan penduduk.

Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu, di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit, sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan. Sang harimau paham, bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok gua.

Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus dari semua pelajaran yang diberikan olehnya. Pada awalnya banyak yang takut, namun setelah di tantang, mereka semua mau untuk ikut.

Di pagi hari, berangkatlah mereka semua. Semuanya tampak beriringan, dipandu sang pertapa yang berjalan di depan rombongan. Setelah seharian berjalan, sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap. Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan sebongkah daging kepada serigala. Melihat kejadian itu, sang pertapa bertanya bertanya kepada murid-muridnya, “Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari sana..?”.

Seorang murid tampak angkat bicara, “Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena itu, lebih baik aku berdiam saja, karena toh Tuhan akan selalu memberikan rezekinya kepada ku lewat berbagai cara.” Sang pertapa tampak tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, “Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan.” Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya. “Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau.”

**

Adalah benar bahwa Tuhan ciptakan ikan kepada umat manusia. Adalah benar pula, Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, adakah Dia berikan kepada kita gandum-gandum itu hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya, ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan. Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.

Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika disana kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang dari Tuhan. Dari sana pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun, ada satu hal kecil yang patut diingat disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu adalah suatu keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin membalas budi.

Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Disana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab disana, akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Di dalam berbagi akan bersemayan keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan kalbu. Teman, jika kita bisa memilih, berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh, dan mulailah meniru teladan harimau.

Selasa, 20 Oktober 2009

Notes'

Ketelitian

Di sebuah ruang kuliah, seorang profesor kedokteran memberikan kuliah perdananya. Para mahasiswa baru itu tampak serius. Mata mereka terpaku menatap profesor, seraya tangan sibuk mencatat.



“Menjadi dokter, butuh keberanian dan ketelitian,” terdengar suara sang profesor. “Dan saya harap kalian dapat membuktikannya.” Bapak itu beranjak ke samping.
“Saya punya setoples cairan limpa manusia yang telah direndam selama 3 bulan.” Profesor itu mencelupkan jari ke dalam toples, dan memasukkan jari itu ke mulutnya. Terdengar teriak-teriak kecil dari mahasiswa itu. Mereka terlihat jijik. “Itulah yang kusebut dengan keberanian dan ketelitian,” ucap profesor lebih meyakinkan.



“Saya butuh satu orang yang bisa berbuat seperti saya. Buktikan bahwa kalian ingin menjadi dokter.” Suasana aula mendadak senyap. Mereka bingung: antara jijik dan tantangan sebagai calon dokter. Tak ada yang mengangkat tangan. Sang profesor berkata lagi, “Tak adakah yang bisa membuktikan kepada saya? Mana keberanian dan ketelitian kalian?


Tiba-tiba, seorang anak muda mengangkat tangan. “Ah, akhirnya ada juga yang berani. Tunjukkan pada teman-temanmu bahwa kau punya keberanian dan ketelitian.รข€ Anak muda itu menuruni tangga, menuju mimbar tempat sang professor berada. Dihampirinya stoples itu dengan ragu-ragu. Wajahnya tegang, dan perasaan jijik terlihat dari air mukanya.


Ia mulai memasukkan jarinya ke dalam toples. Kepala menoleh ke samping dengan mata yang menutup. Teriakan kecil rasa jijik kembali terdengar. Perlahan, dimasukkannya jari yang telah tercelup lendir itu ke mulutnya. Banyak orang yang menutup mata, banyak pula yang berlari menuju kamar kecil. Sang professor tersenyum. Anak muda itu tersenyum kecut, sambil meludah-ludah ke samping.


“Aha, kamu telah membuktikan satu hal, anak muda. Seorang calon dokter memang harus berani. Tapi sayang, dokter juga butuh ketelitian.” Profesor itu menepuk punggung si mahasiswa. “Tidakkah kau lihat, aku tadi memasukkan telunjuk ke toples, tapi jari tengah yang masuk ke mulut. Seorang dokter memang butuh keberanian, tapi lebih butuh lagi ketelitian.”



***

Tantangan hidup, kadangkala bukan untuk menghadapi kematian. Tapi, justru bagaimana menjalani kehidupan. Banyak orang yang takut mati. Tapi, tidak sedikit yang memilih mati ketimbang hidup. Banyak yang menghabisi hidup pada jalan-jalan tercela. Banyak pula yang enggan hidup hanya karena beratnya beban kehidupan.


Ujaran profesor itu memang benar. Tantangan menjadi seorang dokter-dan sesungguhnya, menjadi manusia-adalah dibutuhkannya keberanian dan ketelitian. Bahkan, tantangan itu lebih dari sekadar mencicipi rasa cairan limpa di toples. Lebih berat. Jauh lebih berat. Dalam kehidupan, apa yang kita alami kadang lebih pahit dan menegangkan. Namun, bagi yang teliti, semua bisa jadi manis, menjadi tantangan yang mengasyikkan. Di sanalah ditemukan semua rasa, rupa dan suasana yang mendidik. Dan mereka dapat dengan teliti memilah dan memilih.

Teman, hati-hatilah. Hidup memang butuh keberanian. Tapi, akan lebih butuh ketelitian. Cermati langkahmu, waspadai tindakanmu. Hati-hati saat “mencelupkan jari” dalam toples kehidupan. Kalau tidak, “rasa pahit” yang akan kita temukan.



Terima kasih telah membaca.

Hope you are well and please do take care

Notes'

Sayap Kerdil

Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya.

Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya.

Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih.


Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?”
Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.”

Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan.Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat.

Notes'

Roda

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia, tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?


Sang roda pun berbalik arah.
Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu diperhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.


Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei….semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak lebih indah.


Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah.
Mereka zkini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.


Bunga-bunga pun tampak lebih indah.
Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.


Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya.
Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.


Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.



***

Sahabat, begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.
Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni.


Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Sobat, coba, susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita. Adakah kebahagiaan yang terlupakan? Adakah keindahan yang tersembunyi dan alpa kita nikmati? Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu!!

Notes'

Aku ingin mama kembali

Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa.


Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya.Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.


Pada tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini.Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit. Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan ijeksi/suntikan kepada pasiennya.

Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.

Aku Mau Mama Kembali

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir.

Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, “Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!” demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.

Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun
tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yg istimewa untuk menjalani ujian di dunia. Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan keluarnya…ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Tuhan tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya.

Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan….bangkitlah! karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.

Notes'

Bunda tolong mandikan saya’

Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di University Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan.
Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara " dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.


Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai Staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula.Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi.


Saya pernah bertanya , " Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?" Dengan sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok." Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya.


"Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya.
Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini "dapat memahami" orang tuanya.

Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.


Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya. " Alif ingin bunda mandikan." Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya. Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan," Bunda, mandikan Alif?" begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. " Bu dokter,
Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency". Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Alloh SWT sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya.Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya,shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. " Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif." Ucapnya lirih, namun teramat pedih.


Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, "Ini sudah takdir, iya kan ? Aku disebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ? ". Saya diam saja mendengarkan. "Ini konsekuensi dari sebuah pilihan." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. " Aku ibunya !" serunya kemudian, " Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif". Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-kais tanah merah ?..




Minggu, 07 Juni 2009

it called (almost) hiking

hari Sabtu, with a good logistic preparation (but very bad finance preparation), aku dan abiy went to curug cibeureum, yg letaknya 2.5 km dari pondok halimun. it was fun, really fun, apalagi bisa digendong sama abiy berkali2....hahahaha.... makasi ya sayangkuuu...
..ntar ah dilanjut lg critanya,,,brsmbung dlu ya..

HE IS REAL SUPERMAN

(based on true story)
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, pak Suyatno 58 tahun, kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.
Setelah istrinya melahirkan anak ke empat, disinilah awal cobaan menerpa, tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makansiang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia tem ani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buahhati mereka.
Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah. Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Setelah anak-anak menikah, mereka tinggal dengan keluarga masing-masing. Pak Suyatno sudah lama memutuskan bahwa dia yang merawat ibu anak-anaknya dan yang dia inginkan hanya satu yaitu semua anaknya berhasil
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata "Pak, kami ingin sekali merawat ibu karena semenjak kami kecil, kami melihat bapak merawat ibu dan tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu".Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya : "Ini sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak. Dengan berkorban seperti ini kami tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu bergantian".
Pak Suyatno menjawab dengan jawaban yg tidak diduga anak2 mereka : "Anak2ku Jikalau hidup didunia ini hanya untuk nafsu Mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah bahwa dengan adanya ibu kaliandisampingku itu, sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian".... .. sejenak kerongkongannya tersekat, "Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta, yang tidak satupun dapat menggantikannya, dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini ?".. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang". "Kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah kesehatan ini, dirawat oleh orang lain ?". "Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit ?"Sejenak meledaklah tangis anak2 pak Suyatno dan merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno...dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..
Sampailah akhirnya pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber di acara islami selepas shubuh, mereka mengajukan pertanyaan kepada pak Suyatno bagaimana aranyamampu bertahan selama 25tahun merawat istrinya yg sudah tidak bisa apa2.
Di saat itu Pak Suyatno menangis. Tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum perempuanpun juga tidak sanggup menahan haru. Di situlah pak Suyatno bercerita :" Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai karena Allah, maka semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya, bukan dengan lahiriah saja, dan dia memberisaya 4 orang anak yg lucu2.."
Sekarang dia sakit, berkorban untuk saya, karena Allah... dan itu merupakan ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit. Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya dapat bercerita kepada Allah. Di atas sajadah.. saya yakin. Hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya..

Jumat, 05 Juni 2009

.Semua Tentang Kita.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Ada cerita
Tentang aku dan dia
Dan kita bersama
Saat dulu kala
Ada cerita
Tentang masa yang indah
Saat kita berduka
Saat kita tertawa

Teringat disaat
Kita tertawa bersama
Ceritakan semua
Tentang kita

Ada cerita
Tentang aku dan dia
Dan kita bersama
Saat dulu kala
Ada cerita
Tentang masa yang indah
Saat kita berduka
Saat kita tertawa


.Song by: Peterpan.

.Secarik Rindu untuk Pangeran Hatiku.

Tahukah kamu
Berapa banyak kata rindu
Yang berhasil aku kalahkan
Ketika aku menunggumu, sayang?
Tahukah kamu
Berapa ribu tetes embun pagi
Yang menemaniku dalam sepinya hati ini
Ketika engkau tinggalkan aku senja itu?
Tahukah kamu
Suratmu adalah teman hatiku
Ketika diriku
Tak menemukanmu di sampingku
Tahukah kamu
Aku merindumu di setiap milisekon nafasku
Aku mencarimu di setiap milisenti langkahku
Aku mengagumi di setiap detak jantungku

Kamu tahu, aku menunggumu di sini
Dan aku tahu, kamu tak kan pergi terlalu jauh dari hati ini

Di manapun kamu sekarang,
Rasa cintaku takkan berkurang, Sayang…
Karna ku sayang kamu

.(selalu)Untuk Abiy.

Proses mencintai seseorang sama seperti proses pembuatan roti tawar…

Awalnya semua bahan disiapkan…
Mata, telinga, hati,,, semua indera telah siap mengagumi sang pujaan hati
Lalu itu semua diaduk, dicampur rata, hingga tak ada rasa yang berlebih apalagi kurang…
Indah senyumnya, lembut suaranya, teduh tutur katanya, hingga tawa dalam tatapnya,,, semua dilebur hingga tercampur
Jangan lupa campurkan ragi ke dalam adonan, agar adonan mengembang
Ragi kagum membuat cinta semakin mengembang… bertambah volumenya
Ketika semua telah tercampur, kini adonan itu siap dimasukkan ke dalam oven…

Dan sudah siaplah adonan itu dimasukkan ke dalam oven panas…
Akhirnya cinta terbakar api cemburu,, Tapi tunggu dulu, hal itu bukan untuk memusnahkan sang cinta, tetapi malah membuat sang cinta semakin matang dan semakin mantap untuk mencintai dan dicintai

Hingga setelah selesai di oven, adonan tersebut berubah bentuk,,ohhh,, bukan hanya itu, ia berubah nama menjadi “roti”
Dan akhirnya cinta berubah jadi sayang,,, rasa sayang yang siap untuk dinikmati, dikonsumsi kapanpun ia dibutuhkan

Belum lagi aneka ragam selai siap mempercantik dan memberi rasa pada roti…
Banyak rasa yang akan dibubuhkan ke atas rasa sayang,, tapi semua rasa itu akan menambah nikmatnya mengkonsumsi rasa sayang
Dan kita tidak bisa membubuhkan salah satu jenis selai favorit saja, karena hal itu akan membuat kita merasa bosan sendiri menikmati sang roti…
Sama seperti rasa sayang, ia tidak bisa melulu kita beri selai kebahagiaan, tapi kadang kita harus menikmati rasa sayang dengan taburan tangisan… itulah yang membuat kita tak pernah bosan menyayangi,, karena di dalam sayang ada tawa, tangis, bahagia, jerit kesakitan, kata sepakat, berdebat

Karena di dalam setangkup sayang akhirnya ada aku dan kau…

.untuk Abiy, dengan setumpuk cinta dari Mamamu.

.Rinduku untuk Teman-temanku.

Semua senyuman yang pernah, masih, dan akan terus menghujaniku dengan penuh kebahagiaan,
masih saja setia menanti di depan hari,
meski tak sedekat dulu lagi
Semua tawa yang mendekapku dengan hangatnya kehadiran kalian di setiap detik ku hembuskan nafasku,
masih saja menjanjikan segunung harapan
untuk merajut persahabatan,
entah itu dapat terjadi kapan
Dan lagi, semua nyanyian perjanjian yang kalian senandungkan
bagi tahun-tahun ke belakang yang tak sanggup kita tinggalkan,
masih saja terus bermain di telingaku,
meski aku tahu ini hanya hasil kerja otakku
yang terlalu sering merekam semua itu
Dan untuk terakhir kali,
aku berjanji seorang diri,
untuk hadir dalam setiap tangis kalian, tawa kalian, canda kalian, maupun dalam setiap bulir air mata yang mengalir,
meski aku tahu semua kisah indah ini sudah akan berakhir….

Kamis, 04 Juni 2009

Your Call

Waiting for yourCall I'm sick, call I'm angry, call I'm desperate for your voiceListening to the song we used to singIn the car, do you remember?Butterfly, Early SummerIt's playing on repeat, just like when we would meet...Like when we would meet...Cause I was born to tell you I love you...And I am torn to do what I have to...To make you mine, stay with me tonightStripped and pollished, I am new, I am freshI am feeling so ambitious, you and me, flesh to fleshCause every breath that you will takeWhen you are sitting next to meWill bring life into my deepest hopes, what's your fantasy?What's your... (what's your... what's your...)Cause I was born to tell you I love you...And I am torn to do what I have to...To make you mine, stay with me tonightAnd I'm tired of being all alone, and this solitary moment makes me want to come back homeAnd I'm tired of being all alone, and this solitary moment makes me want to come back homeAnd I'm tired of being all alone, and this solitary moment makes me want to come back home(I know everything you wanted isn't anything you have)And I'm tired of being all alone, and this solitary moment makes me want to come back home(I know everything you wanted isn't anything you have)Cause I was born to tell you I love you... (And I was born to tell you I love you...)And I am torn to do what I have to... (And I am torn to do what I have to...)Cause I was born to tell you I love you... (I was born...)(I know everything you wanted isn't anything you have)And I am torn to do what I have to...(I know...)To make you mine, stay with me tonight

.aku rindu kamu.

Ini semua ku genggam
agar tak jatuh berdebam
Tapi ternyata
ini semua salah realita

Garis hidup dari Tuhan
takkan redup karena jaman
Takdir nafas dari Sang Pencipta
takkan terhempas oleh dukacita

Bayang absurb
Semua keruh
Jelaga kutub
Semua kumuh

Terbang dengan senang
Melayang dengan dendang
Pagar terkunci
Segera terpugar oleh mimpi

Jauh,jauh…..
Kan ku kayuh
Agar ini cepat berlabuh
Indah,
Indah….
Kan kucegah
Agar tak ada gundah

Aku. Kamu. Kita
Tiga kata yang berbeda
Aku. Kamu. Dia
Tiga kata yang menyimpan tanya

Bolehkah aku membencinya?
Ataukah aku harus memarahimu?
Bolehkah aku memakinya?
Ataukah aku harus berteriak di hadapmu?

Tanyakan aku,
Tanyakan aku
Berapa lama waktu yang kuperlu
Untuk perbaiki semua itu

Tanyakan dirimu,
Tanyakan dirimu,
Apa kamu mencintaiku
Dan tak ingin kehilanganku?

Tanyakan dia,
Tanyakan dia
Apa dia rela kena karma
Karna tlah mendukakan hati wanita

.Aku rindu kamu.

Selasa, 02 Juni 2009

and the stories go....

Banyak cerita tentang aku dan dia. Tak ada yang tahu. Mungkin mereka tahu, tapi mereka hanya tahu sampulnya saja. Mereka tidak bisa membaca novel kisah hidup kami, karena novel kisah kami masih dibungkus dengan plastik privasi dan novel kami tidak, oh maaf, belum diperjualbelikan dalam kehidupan ini.

Kami bertemu sekitar dua tahun yang lalu. Awalnya hanya kaku belaka, tapi ternyata Tuhan memberi kami kesempatan untuk selalu bertemu, meski hanya di lorong sekolah atau di zebracross saja. Tapi kenangan-kenangan kecil itu begitu indah, tidak kalah indahnya dengan kenangan-kenangan yang sudah terjadi, yang sudah terekam, dan sudah terkenang.

Baiklah, saya akan mencoba berhenti menggunakan kata “kami”, karena sebenarnya ini adalah cerita tentang saya dan dia, bukan hanya cerita tentang kami. Dan seperti penulis lain pada umumnya, saya akan menuliskan apa yang saya rasakan, bukan apa yang kami rasakan, karena kami jarang berbincang mengenai apa yang kami rasakan. Kami hanya sering berbincang tentang apa yang saya rasakan, dan apa yang dia rasakan. Lihat, begitu berbeda bukan? Ini bukan tentang perasaan kami, tapi ini semua tentang perasaan saya dan dia.


30 Juni 2007,
Malam itu kendaraan memadati Ciawi, seakan semua orang mengantarkan kepindahanku ke Sukabumi. Huh… Sukabumi?? Kota macam apalagi itu? Mengapa aku bisa terdampar ke Sukabumi? Entahlah, nobody knows God’s plans, so do I. Jadi selama perjalanan menuju ke Sukabumi aku hanya melamun, sambil sesekali merindukan sahabatku. Macet, bising, asap knalpot, orang-orang egois, pokoknya semua hal tentang Jakarta. Aku rindu Jakarta, meski aku baru sekitar 2 jam meninggalkan calon kota megapolitan itu.
Sungguh, aku merindukan Jakarta,,, Tidak peduli seburuk apapun Jakarta, it’s still my only one favourite town.


17 Juli 2007,
Hari pertamaku di SMAN 3 Sukabumi. Katanya sih sekolah ini bagus, but I absolutely don’t agree with people statement. It’s even far from “enough”!!!!! Oh my God!! Aku bahkan tidak menemukan aula berkeramik disini!!! Dan, FYI, di sini ga ada tempat olahraga indoor!!! Oh God!! Cobaan apalagi yang kau berikan kepadaku?? Oke, aku harus berusaha untuk mulai enjoy minimum facilities in this small town. Dan yang paling ga masuk di akal menurutku ialah angkot yang selalu mundur ketika melihat ada orang yang kelihatannya ingin naik angkot!! Oh God!! They even don’t live in a rush!!! Santai banget!! It’s totally different with Jakarta. Bahkan aku mendengar cerita gokil terbaru dari mamaku bahwa beliau siang tadi naik angkot, dan di dalam angkot tersebut ada seorang ibu hamil yang meminta supir angkot untuk berhenti di depan restoran ayam goreng dan ibu tadi meminta supir angkot tersebut untuk menunggunya!!! God!! And the driver does it!! After 10 minutes, akhirnya angkot yang mamaku tumpangi tadi berangkat lagi. What a weird story!! I’ve never ever found story like that in Jakarta, and I will not find story like that in Jakarta!!


…. Juli 2007,
Masih dalam penat dan sumpeknya menghadapi MOS. But got something today. Tadi ada promosi ekstrakurikuler di aula yang tidak berkeramik (I’ve told you about this “auditorium” before, remember?). Jujur, aku bingung mau ikut ekskul apa, because I have no interest in those extra-curriculars. Tapi sudah terpikir olehku untuk memilih ekskul basket dan pustakawan.! Pustakawan? When I was in my junior high school, ga ada ekskul semacam ini. Tapi aku agak curious dengan kegiatan mereka yang katanya sih condong ke arah sastra. And I love it! Aku memang sedang mencari wadah untuk menampung puisi-puisi dan cerpen-cerpen gilaku yang sudah menumpuk di komputer di rumah. Hope it can be a big bucket for my sense of language. Hahahaha.. :p Tapi aku belum registrasi ke pengurus kedua ekskul ini. Nanti saja, masih lama kok tenggang waktunya. MOS aja belum beres kok, jadi hari belajar efektif juga belum dimulai, dan kegiatan ekskul juga pasti belum dimulai.


… Juli 2007,
Sebal banget rasanya kenapa mesti ada acara penutupan MOS di Kemuning? Lemme tell you the describe of Kemuning. Kemuning adalah tempat untuk camping, and I do camping here. Seumur hidup, baru kali ini deh ngediriin tenda sendiri, bahkan mesti masang patok sendiri. Actually ga masang sendiri sih, tapi bareng sama teman-teman sekelompok. Dan aku yang hate camping’s life much, dari awal mencucukkan patok tenda ke tanah aja aku udah ga excited dan ga ngerti. But thanks God, seniors ngebantu aku dan temen-temen aku to stand the tent. Sebenernya sih bukan seniors, but just two of seniors helped us, karena senior yang lain ngebantuin kelompok lainnya.


… Juli 2007,
Thanks God!! This is the last day of camping!! I’m so happy. Tadi ada acara campfire, biasalah a must tradition kalau lagi camping. Tapi tadi aku kurang nikmatin acaranya coz it was so bored (for me, not for the others). Jadi aku nunggu di tenda bareng sama Lastri, yang anehnya malah sibuk ngaca, padahal our tent is dark enough, dan aku yakin dia ga bisa total ngeliat wajahnya di cermin…hahahaha… dan after mirroring, Lastri bengong ga ngapa-ngapain, like what I’m doing. Dan ketika kami berdua lagi sibuk dengan lamunan kami masing-masing, ada seorang cowok menyorotkan senter ke arah pintu tenda kami yang terbuka. Makin lama ia makin mendekat, seperti ingin mengecek wrong things di tenda kami. Lalu aku tanya, “Ada apa, Kang?” Cowok itu langsung bilang “Oh, gak apa-apa,” and he went away. Still confuse, aku nanya ke Lastri “ Akang yang tadi ngapain sih?” Lastri dengan santai menjawab “Kamu kayak cowok sih, jadi Akang tadi ngira kita lagi berduaan di dalam tenda.” What a next foolish thing!!! Haahaha.. aku cuma bisa ketawa dalam hati. Dalam satu hari aku udah dua kali disangka pria sama orang lain. Yang pertama ialah ketika tadi sore aku ikut English game, dan yang kedua ialah ya yang di tenda ini!! Hahahaha…. Am I too boyish so that people recognize me as a boy?? Helloooo… I’m totally a girl!! Cek aja nih kalo ga percaya!! Hahaahaa… Emang sih style aku boyish banget, aku pake celana surfer dan kaos kegedean warna hitam. Kalo kayak gini penampilanku, there’s no reason for people to call me a girl. Hehehehe…



… Juli 2007,
MOS dengan sejuta kenangan buruk di dalamnya (contoh: sendok garpu yang aku bawa hilang di Kemuning, untung aja piringnya gak hilang..hehehe..that’s a bad memory, right? ;p), sudah berakhir. Today I will face matrikulasi test. Semalam suntuk aku ngebut belajar, prepare buat tes matrikulasi hari ini dan besok aku mesti ngerjain psikotes. Aku niat banget nih ngerjain tes-tes tersebut, karena aku pengen banget masuk kelas akselerasi, jadi aku di SMA ini cuma dua tahun (dan aku emang ga mau lama-lama sekolah di sini…hehehehe). Orang-orang lain sibuk contek sana-sini, bahkan ketika psikotes sekalipun!! How dumb they’re!! Tapi ga ada yang minta contekan ke aku, coz I looks like a geek person but have no brain inside…Hahahaha… Ya aku sih cuek aja, toh aku ga butuh contekan dari mereka, kan?


… Juli 2007,
Hari belajar efektif starts from today. Dan aku bener-bener ga ngerasain kalau aku adalah seorang pelajar, karena sepanjang hari guru tuh ga semuanya masuk di jam pelajaran. Dalam 1 hari hanya ada sekitar 2 guru yang masuk kelas, padahal dalam 1 hari seharusnya ada 4 sampai 5 guru yang mengajar di kelasku. Oh God!! Aku pengen banget cepet-cepet masuk kelas akselerasi, hope there will be much far away better than in regular class. Dan tadi sepulang sekolah aku daftar ekskul pustakawan. Dan ternyataaaa, the library is so different from my junior high library!! In my junior high, perpus tuh tingkat dua dan full of air conditioner. Dan di siniiiii, cuma satu lantai dan itupun koleksi bukunya masih sedikit (banget)!!! I was so amaze with what I see, tadinya mau ngebatalin niat ikut pustakawan, eh tapi ternyata udah keburu ada bapak penjaga perpus yang bilang “O, mau daftar ekskul pustakawan ya? Sebentar ya,” lalu bapak itu memanggil seorang cowok “Ram, ada yang mau daftar.” Ga lama kemudian, ada seorang cowok tinggi dengan very short haircut (ya botak tiga senti gitu deh rambutnya, kayak praja IPDN gitu deh pokoknya). “Mau daftar ya? Ini, isi dulu formulirnya ya. Duduk di sini aja,” ujarnya dengan ramah. Aku sih cuek-cuek aja, bahkan aku ga ngebales senyumnya dia!! Hahahaha.. ga sopan banget kan tuh? Aku segera mengisi formulir itu. Pengen cepet-cepet pulang nih!! Laper berat!! “O, dari Jakarta ya? Kenapa pindah ke sini?” tiba-tiba cowok itu bertanya kepadaku. “Iya, ikut papa pindah kerja.” “O gitu, ya?” sahut cowok itu. “Suka basket ya?” ga lama cowok itu berkoar lagi. “Iya,” jawabku singkat, jelas, padat, berisi. “Nih, Kang,” ujarku sambil menyerahkan formulir tersebut. “O iya, makasi ya. Nanti kalo ada kumpul, ikut ya. Nanti pengumumannya lewat announcement speaker.” “Iya. Makasi, Kang.” Sebelum aku beranjak dari perpus, cowok itu bilang ke bapak penjaga perpus itu kalo aku dari Jakarta. Dan bapak penjaga perpus itu juga nanya kenapa aku pindah ke Sukabumi. As usual, my answer is “Ikut papa pindah kerja.”
(I thought) That was the first meet with him.

and the stories go....

Banyak cerita tentang aku dan dia. Tak ada yang tahu. Mungkin mereka tahu, tapi mereka hanya tahu sampulnya saja. Mereka tidak bisa membaca novel kisah hidup kami, karena novel kisah kami masih dibungkus dengan plastik privasi dan novel kami tidak, oh maaf, belum diperjualbelikan dalam kehidupan ini.

Kami bertemu sekitar dua tahun yang lalu. Awalnya hanya kaku belaka, tapi ternyata Tuhan memberi kami kesempatan untuk selalu bertemu, meski hanya di lorong sekolah atau di zebracross saja. Tapi kenangan-kenangan kecil itu begitu indah, tidak kalah indahnya dengan kenangan-kenangan yang sudah terjadi, yang sudah terekam, dan sudah terkenang.

Baiklah, saya akan mencoba berhenti menggunakan kata “kami”, karena sebenarnya ini adalah cerita tentang saya dan dia, bukan hanya cerita tentang kami. Dan seperti penulis lain pada umumnya, saya akan menuliskan apa yang saya rasakan, bukan apa yang kami rasakan, karena kami jarang berbincang mengenai apa yang kami rasakan. Kami hanya sering berbincang tentang apa yang saya rasakan, dan apa yang dia rasakan. Lihat, begitu berbeda bukan? Ini bukan tentang perasaan kami, tapi ini semua tentang perasaan saya dan dia.


30 Juni 2007,
Malam itu kendaraan memadati Ciawi, seakan semua orang mengantarkan kepindahanku ke Sukabumi. Huh… Sukabumi?? Kota macam apalagi itu? Mengapa aku bisa terdampar ke Sukabumi? Entahlah, nobody knows God’s plans, so do I. Jadi selama perjalanan menuju ke Sukabumi aku hanya melamun, sambil sesekali merindukan sahabatku. Macet, bising, asap knalpot, orang-orang egois, pokoknya semua hal tentang Jakarta. Aku rindu Jakarta, meski aku baru sekitar 2 jam meninggalkan calon kota megapolitan itu.
Sungguh, aku merindukan Jakarta,,, Tidak peduli seburuk apapun Jakarta, it’s still my only one favourite town.


17 Juli 2007,
Hari pertamaku di SMAN 3 Sukabumi. Katanya sih sekolah ini bagus, but I absolutely don’t agree with people statement. It’s even far from “enough”!!!!! Oh my God!! Aku bahkan tidak menemukan aula berkeramik disini!!! Dan, FYI, di sini ga ada tempat olahraga indoor!!! Oh God!! Cobaan apalagi yang kau berikan kepadaku?? Oke, aku harus berusaha untuk mulai enjoy minimum facilities in this small town. Dan yang paling ga masuk di akal menurutku ialah angkot yang selalu mundur ketika melihat ada orang yang kelihatannya ingin naik angkot!! Oh God!! They even don’t live in a rush!!! Santai banget!! It’s totally different with Jakarta. Bahkan aku mendengar cerita gokil terbaru dari mamaku bahwa beliau siang tadi naik angkot, dan di dalam angkot tersebut ada seorang ibu hamil yang meminta supir angkot untuk berhenti di depan restoran ayam goreng dan ibu tadi meminta supir angkot tersebut untuk menunggunya!!! God!! And the driver does it!! After 10 minutes, akhirnya angkot yang mamaku tumpangi tadi berangkat lagi. What a weird story!! I’ve never ever found story like that in Jakarta, and I will not find story like that in Jakarta!!


…. Juli 2007,
Masih dalam penat dan sumpeknya menghadapi MOS. But got something today. Tadi ada promosi ekstrakurikuler di aula yang tidak berkeramik (I’ve told you about this “auditorium” before, remember?). Jujur, aku bingung mau ikut ekskul apa, because I have no interest in those extra-curriculars. Tapi sudah terpikir olehku untuk memilih ekskul basket dan pustakawan.! Pustakawan? When I was in my junior high school, ga ada ekskul semacam ini. Tapi aku agak curious dengan kegiatan mereka yang katanya sih condong ke arah sastra. And I love it! Aku memang sedang mencari wadah untuk menampung puisi-puisi dan cerpen-cerpen gilaku yang sudah menumpuk di komputer di rumah. Hope it can be a big bucket for my sense of language. Hahahaha.. :p Tapi aku belum registrasi ke pengurus kedua ekskul ini. Nanti saja, masih lama kok tenggang waktunya. MOS aja belum beres kok, jadi hari belajar efektif juga belum dimulai, dan kegiatan ekskul juga pasti belum dimulai.


… Juli 2007,
Sebal banget rasanya kenapa mesti ada acara penutupan MOS di Kemuning? Lemme tell you the describe of Kemuning. Kemuning adalah tempat untuk camping, and I do camping here. Seumur hidup, baru kali ini deh ngediriin tenda sendiri, bahkan mesti masang patok sendiri. Actually ga masang sendiri sih, tapi bareng sama teman-teman sekelompok. Dan aku yang hate camping’s life much, dari awal mencucukkan patok tenda ke tanah aja aku udah ga excited dan ga ngerti. But thanks God, seniors ngebantu aku dan temen-temen aku to stand the tent. Sebenernya sih bukan seniors, but just two of seniors helped us, karena senior yang lain ngebantuin kelompok lainnya.


… Juli 2007,
Thanks God!! This is the last day of camping!! I’m so happy. Tadi ada acara campfire, biasalah a must tradition kalau lagi camping. Tapi tadi aku kurang nikmatin acaranya coz it was so bored (for me, not for the others). Jadi aku nunggu di tenda bareng sama Lastri, yang anehnya malah sibuk ngaca, padahal our tent is dark enough, dan aku yakin dia ga bisa total ngeliat wajahnya di cermin…hahahaha… dan after mirroring, Lastri bengong ga ngapa-ngapain, like what I’m doing. Dan ketika kami berdua lagi sibuk dengan lamunan kami masing-masing, ada seorang cowok menyorotkan senter ke arah pintu tenda kami yang terbuka. Makin lama ia makin mendekat, seperti ingin mengecek wrong things di tenda kami. Lalu aku tanya, “Ada apa, Kang?” Cowok itu langsung bilang “Oh, gak apa-apa,” and he went away. Still confuse, aku nanya ke Lastri “ Akang yang tadi ngapain sih?” Lastri dengan santai menjawab “Kamu kayak cowok sih, jadi Akang tadi ngira kita lagi berduaan di dalam tenda.” What a next foolish thing!!! Haahaha.. aku cuma bisa ketawa dalam hati. Dalam satu hari aku udah dua kali disangka pria sama orang lain. Yang pertama ialah ketika tadi sore aku ikut English game, dan yang kedua ialah ya yang di tenda ini!! Hahahaha…. Am I too boyish so that people recognize me as a boy?? Helloooo… I’m totally a girl!! Cek aja nih kalo ga percaya!! Hahaahaa… Emang sih style aku boyish banget, aku pake celana surfer dan kaos kegedean warna hitam. Kalo kayak gini penampilanku, there’s no reason for people to call me a girl. Hehehehe…



… Juli 2007,
MOS dengan sejuta kenangan buruk di dalamnya (contoh: sendok garpu yang aku bawa hilang di Kemuning, untung aja piringnya gak hilang..hehehe..that’s a bad memory, right? ;p), sudah berakhir. Today I will face matrikulasi test. Semalam suntuk aku ngebut belajar, prepare buat tes matrikulasi hari ini dan besok aku mesti ngerjain psikotes. Aku niat banget nih ngerjain tes-tes tersebut, karena aku pengen banget masuk kelas akselerasi, jadi aku di SMA ini cuma dua tahun (dan aku emang ga mau lama-lama sekolah di sini…hehehehe). Orang-orang lain sibuk contek sana-sini, bahkan ketika psikotes sekalipun!! How dumb they’re!! Tapi ga ada yang minta contekan ke aku, coz I looks like a geek person but have no brain inside…Hahahaha… Ya aku sih cuek aja, toh aku ga butuh contekan dari mereka, kan?


… Juli 2007,
Hari belajar efektif starts from today. Dan aku bener-bener ga ngerasain kalau aku adalah seorang pelajar, karena sepanjang hari guru tuh ga semuanya masuk di jam pelajaran. Dalam 1 hari hanya ada sekitar 2 guru yang masuk kelas, padahal dalam 1 hari seharusnya ada 4 sampai 5 guru yang mengajar di kelasku. Oh God!! Aku pengen banget cepet-cepet masuk kelas akselerasi, hope there will be much far away better than in regular class. Dan tadi sepulang sekolah aku daftar ekskul pustakawan. Dan ternyataaaa, the library is so different from my junior high library!! In my junior high, perpus tuh tingkat dua dan full of air conditioner. Dan di siniiiii, cuma satu lantai dan itupun koleksi bukunya masih sedikit (banget)!!! I was so amaze with what I see, tadinya mau ngebatalin niat ikut pustakawan, eh tapi ternyata udah keburu ada bapak penjaga perpus yang bilang “O, mau daftar ekskul pustakawan ya? Sebentar ya,” lalu bapak itu memanggil seorang cowok “Ram, ada yang mau daftar.” Ga lama kemudian, ada seorang cowok tinggi dengan very short haircut (ya botak tiga senti gitu deh rambutnya, kayak praja IPDN gitu deh pokoknya). “Mau daftar ya? Ini, isi dulu formulirnya ya. Duduk di sini aja,” ujarnya dengan ramah. Aku sih cuek-cuek aja, bahkan aku ga ngebales senyumnya dia!! Hahahaha.. ga sopan banget kan tuh? Aku segera mengisi formulir itu. Pengen cepet-cepet pulang nih!! Laper berat!! “O, dari Jakarta ya? Kenapa pindah ke sini?” tiba-tiba cowok itu bertanya kepadaku. “Iya, ikut papa pindah kerja.” “O gitu, ya?” sahut cowok itu. “Suka basket ya?” ga lama cowok itu berkoar lagi. “Iya,” jawabku singkat, jelas, padat, berisi. “Nih, Kang,” ujarku sambil menyerahkan formulir tersebut. “O iya, makasi ya. Nanti kalo ada kumpul, ikut ya. Nanti pengumumannya lewat announcement speaker.” “Iya. Makasi, Kang.” Sebelum aku beranjak dari perpus, cowok itu bilang ke bapak penjaga perpus itu kalo aku dari Jakarta. Dan bapak penjaga perpus itu juga nanya kenapa aku pindah ke Sukabumi. As usual, my answer is “Ikut papa pindah kerja.”
(I thought) That was the first meet with him.


… Agustus 2007,
Siang ini aku harus kumpul di perpustakaan, karena akan ada kumpul pustakawan. Pengen pulang rasanya, tapi ya mau gimana lagi, kan harus kumpul. Masa kumpul pertama dengan anak-anak pustakawan lainnya aku ga hadir? Ga mau ah!
Akhirnya tadi aku sudah kumpul dengan teman-teman pustakawan lainnya. Setelah selesai mendengar “ceramah” dari kakak-kakak pengurus ekskul pustakawan, akhirnya kami diperbolehkan pulang. Eh tapi ternyata, Kak Rahmi, ketua ekskul pustakawan, memintaku untuk stay karena katanya sih pengen interview aku (ceileee). Akhirnya aku duduk dan berbincang dengan Kak Rahmi. Segala rupa pertanyaan ia lontarkan terhadapku. Aku yang aslinya santai dan always cheer up, malah jadi asyik ngobrol dengan Kak Rahmi. Setelah itu, Kak Rahmi bertanya kepada seorang cowok botak (yang dulu jadi “receptionist” ketika aku mendaftar pustakawan itu lhooo..), yang ternyata sejak tadi duduk berselang beberapa bangku di sebelah Kak Rahmi, “Ada lagi pertanyaan buat Sintya?” Cowok botak itu langsung ngomong “Iya, ada. Tadi kan kamu bilang kamu suka basket. Nah gimana caranya agar kamu bisa bagi waktu antara main basket dengan waktu belajar kamu? Karena saya dulu juga pernah sibuk main basket dan menurut saya agak susah bagi waktunya.” Aku dengan santai menjawab “Ya yang jelas belajarku ga akan terganggu karena main basket. Kan basket cuma ekskul aja dan cuma buat hobi, jadi ga mungkin belajarku jadi terbengkalai.” Cowok botak itu mengangguk-angguk tanda setuju. Setelah itu, aku pamit pulang kepada Kak Rahmi dan cowok botak itu, yang ternyata bernama Ramli.
Sesampainya aku di rumah, aku buru-buru makan dan ganti seragam sekolah dengan baju basket, karena aku harus kembali lagi ke sekolah untuk ikutan PHKRI (perayaan hari kemerdekaan republik Indonesia) dan aku ikutan three on three. Lawanku hari ini ialah anak-anak kelas 12 IPS 2. Well, sudah mati kutu duluan ni aku karena tahu aku bakal ngelawan anak kelas 12. Haduuuuuh… Ya biarin aja deh, kali-kali aja this day is my lucky day, jadi bisa menang gituuuu… Heheehee..
Sesampainya di lapangan basket sekolah, aku langsung bisa ngeliat lawan-lawanku yang ternyata semua cowok!!! Sama aja kayak partners aku. It means I’m the only one girl in this game!!! Maluuuu banget, sekaligus takut karena aku tahu cowok kan kalo udah do sport pasti kasar deh!!
Priiiit!! The whistle’s already whistling. Okay, aku bahkan ga dapet bola sepanjang permainan!! Ya pasrah deh… Tapi tetep harus semangat. Karena tim kelas kami hanya bertiga, jadi sejak awal pertandingan kami ga gonta-ganti pemain, berbeda dengan lawan kami yang sejak tadi terus-menerus berubah formersnya. Aku terus konsen ke permainanku, sampai tiba-tiba badanku menubruk seorang pemain. Kepalaku menubruk dadanya. GOSH!!! DAMN!!!! Guess who the person is?? RAMLI!!! Anjiiiir… Tinggi banget tu orang!! Oke, actually aku ga langsung ingat siapa dia. Tapi setelah pertandingan selesai, I can clearly remember kalo dia adalah kakak kelas yang tadi siang asked about my basketball and my study. Huh!! Ngeliat tampangnya yang enjoy banget megang bola basket bikin aku BT setengah mati. Dasar tiang listrik!! Dan bahkan dia main basket menggunakan baju seragam!! Itu berarti dia main basket menggunakan celana panjang!! Dasar tiang listrik!! Dan yang aku ingat ialah ketika si tiang listrik itu dapet giliran megang bola basket, temannya, yang belakangan aku tahu bernama Bejo (sebenernya sih nama aslinya Indra), selalu teriak “Ence, sambil baca ayat kursi atuuuhh..” Hahaha…. Dasar kakak kelas yang aneh!! Dan pertandingan di siang yang terik itu berbuahkan kekalahan tim kelasku. Sabaaaaarrrrr…..

Kamis, 28 Mei 2009

Hanya Sebuah Kata

Maaf hanya sebuah kata
Menghiasi bibir yang rata
Kehidupan meraung mata
Hati pun bak udara hampa

Di dalam kitab banyak yang semu
Di dalam syair ada bertemu
Bacalah sedikit coba olehmu
Jikalau baik janganlah jemu

Dengarkan jika Tuhan berpesan
Pada sekalian handai dan taulan
Siapa melihat ini curahan
Jikalau salah segera benarkan

Hanya sebuah kata,
Maaf
Untuk mereka yang pernah bersama'



(Untuk sahabat-sahabatku yg jauh disana)

Harap'

S. Swasti

Kuingin tangannya,
menggendong anak-anakku kelak
Kuingin peluknya ,
menghangatkan anak-anakku nanti
Kuharap tawanya,
mententramkan keluarga kecilku
Kuharap senyumnya,
ceriakan tangis anak-anakku
Kuharap bijaknya,
jadi teladan putra-putriku
Kuharap sikapnya,
adalah kebanggaan sepanjang waktu
Kuharap dirinya,
tak akan pernah jauh
Kuharap sabarnya,
tak pernah bisa luluh

Untuk Dia
yang mencintaiku dengan seluruh jiwa…

Rabu, 27 Mei 2009

Berusahalah!

tidak semua yang di dunia,
diminta
tidak semua yang diminta,
dicipta
tidak semua yang dicipta,
di dunia
tidak semua yang di dunia,
dilihat
tidak semua yang dilihat,
ditulis
tidak semua yang ditulis,
dibaca
tidak semua yang dibaca,
dimengerti
tidak semua yang dimengerti,
disetujui
tidak semua yang disetujui,
diterima
tidak semua yang diterima,
dilaksanakan
tidak semua yang dilaksanakan
sesuai dengan harapan

berusaha atau tidak,
teruslah berusaha!

ALLAH MENGABULKAN DO'A KU....

Ketika kumohon pada Allah kekuatan,
Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat

Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan
Allah memberiku masalah untuk kupecahkan

Ketika kumohon pada Allah kesejahteraan
Allah memberiku akal untuk berpikir

Ketika kumohon pada Allah keberanian
Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi

Ketika kumohon pada Allah sebuah cinta
Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong

Ketika kumohon pada Allah bantuan
Allah memberiku kesempatan

Aku tak pernah menerima apa yang kupinta
tapi Allah memberikan segala yang kubutuhkan

Semua do'aku terjawab sudah....

Sumber : MAPI

KEKUATAN API CINTA

Alkisah suatu ketika, Kapak, Gergaji, Palu, dan Nyala Api sedang mengadakan perjalanan bersama-sama. Di suatu tempat, perjalanan mereka terhenti karena terdapat sepotong besi baja yang tergeletak menghalangi jalanan. Mereka berusaha menyingkirkan baja tersebut dengan kekuatan mereka masing-masing.
"Itu bisa aku singkirkan," kata Kapak. Pukulan-pukulannya kerasa sekali menghantam baja yang kuat dan keras juga itu. Tiap-tiap bacokan hanya membuat kapak itu lebih tumpul sendiri sampai ia berhenti.
"Sini, biar aku yang urus," kata Gergaji. Dengan gigi-giginya yang tajam tanpa perasaan, ia pun mula menggergaji. Tapi kaget dan kecewa ia, semua giginya jadi tumpul dan rontok.
"Apa kubilang," kata Palu, "Kan aku sudah omong, kalian tak bisa. Sini, aku tunjukkan caranya." Tapi baru sekali ia memukul, kepalanya terpental sendiri, dan baja tetap tak berubah.
"Boleh aku coba?" tanya Nyala Api. Dan ia pun melingkarkan diri, dengan lembut menggeluti, memeluk, dan mendekapnya era-erat tanpa mau melepaskannya. Baja yang keras itupun meleleh cair.
Renungan :
Ada banyak hati yang cukup keras untuk melawan kemurkaan dan amukan kemarahan demi harga tinggi. Tapi jarang ada hati yang tahan melawan nyala api cinta kasih yang hangat.
Betapa arif bijak ada dalam sebuah kelembutan dan kehangatan, seperti api mencairkan hati yang dingin. Ah, tak ada yang tahan menampik nyala cinta kasih....
"Sifat cinta sama seperti air dalam tanah. Apabila anda tidak cukup menggali, yang anda peroleh adalah air yang keruh. Apabila anda cukup menggali, yang anda peroleh adalah air yang bersih dan jernih." (Hazrat Inayat Khan)