Saya merindukannya. Entahlah, apakah kata ini cocok untuk menggambarkan perasaan saya kepadanya saat ini. Rindu. Tapi mungkin ini terlalu absurb, rancu, dan sebenarnya tidak bisa menggambarkan peraasan saya secara tepat. Saya tak tahu. Yang saya tahu ialah dia tak membanggakan saya di depan orang banyak,tak seperti dua orang yang sudah membesarkan saya selama delapan belas tahun lebih. Ia hanya berujar “Aku bangga padamu” ketika saya ada di hadapannya ataupun ketika ia berbicara dengan saya, setidaknya setelah saya singgung masalah “Are you proud of me?”. Seperti yang sudah-sudah, dia pasti menjawab “Yes,” tapi sebenarnya tindak-tanduknya tidak menunjukkan hal itu. Mungkin memang sebaiknya tidak perlu terucap lewat bibirnya itu, tapi cukup lewat perbuatannya.
Orang-orang bilang love is blind,tapi sebenarnya love isn’t blind, love can see everything clearly, as clear as pure water. Cinta bisa memilih, mana yang saya sayangi dan mana yang tidak ingin saya sayangi. Nah kenapa orang bilang love is blind, itu adalah bagaimana cara menunjukkan cinta itu sendiri. Ketika kita sayang terhadap seseorang, kita akan bertingkah laku seperti orang buta yang tidak tahu harus belok ke kiri atau ke kanan, yang penting tongkat menunjuk pada jalan yang “sepertinya benar”. Ketika kita menyayangi seseorang, kadang dengan bodohnya kita berprinsip “I’m happy for your happiness”, meski terkadang kita tidak menyukai apa yang dilakukan atau diinginkan orang yang kita sayangi. Itulah yang namanya ‘love is blind”.
Saya ga suka bertele-tele tentang cinta. Ketika kamu mencintai atau menyayangi seseorang, buktikan. Puisi atau syair lagu hanyalah “garnish” , bukan main course. Apalagi rayuan gombal, that’s kinda bullshit.
Sekarang saya sedang merindukan seseorang yang sudah selama tiga tahun ini menemani susah senangnya saya dan saya temani ketika dia sedang susah atau senang. Mungkin saya yang salah, mungkin juga dia yang salah, atau mungkin malah kami berdua yang salah. Terakhir kali kontak dengan dia, saya malah bertengkar, hanya karena cemburu dia FBan dengan seorang wanita. Tolol benar saya. Tapi sebenarnya saya marah bukan karena itu, tapi saya marah karena dia ‘menduakan’ saya dalam semua aspek kehidupannya. Sial benar, padahal setiap hari yang ada di kepala saya hanya dia. Sungguh tidak adil, pikir saya ketika itu.
Saya sebenarnya iri, karena dia tidak kehilangan masa mudanya, sedangkan saya harus meringkuk di rumah layaknya calon mempelai wanita yang sedang dipingit. Sungguh itu tidak adil, ketika saya menunggu dia datang, tapi ternyata dia malah seliweran kemana saja seperti lalat yang puas mengitari Bantar Gebang.
Oke,oke, saya akan berhenti ngomel-ngomel tentang dia. Cukup sudah, saya tidak ingin kehilangan dia. Sepermilisekon pun saya tak sudi. Andai dia tahu betapa posesifnya saya. Ah tapi dia sudah tahu kok kalau saya (teramat sangat) posesif kepadanya.
Kalau boleh saya pergi dengan time machine, saya akan memperbaiki semuanya. Saya lebih baik menjodohkan dia dengan wanita lain ketimbang saya harus bersama dia, karena sampai saat ini tidak ada ujung yang baik bagi kami berdua. Ironis, ketika orang dengan gampangnya kawin cerai, kami malah harus backstreet bertahun-tahun untuk bisa mencapai kata “rumah tangga”. Ya tapi sejujurnyaa saya ga akan pernah ikhlas barang sepermiligram pun jika dia harus bersama-sama dengan orang lain.
Banyak kejadian yang termasuk memorable things rated. Bayar ongkos kurang, sampai harus berjalan kaki saking inginnya keluar berdua. Bahkan dia pernah sampai harus menjual handphonenya demi untuk dinner berdua. Hahaha dinnernya bukan di restoran mahal dan romantic, tapi dinner di tukang sate pinggir jalan!! but it was fun, more fun than having dinner on a cruise.
Saya ingin dia membaca tulisan brekele ini. Semoga saja dia bersedia mengingat-ingat semua kejadian buruk berborok maupun kejadian baik yang menarik. Saya yakin dia ga akan pernah melupakan saya, karena sayalah yang membuat dia bisa menjadi seperti dia yang sekarang ini. Dan seharusnya dia yakin saya ga akan pernah melupakan dia, karena dialah yang membuat saya bisa menjadi seperti saya yang sekarang ini. Cinta itu adalah koin yang punya dua sisi, depan belakang sama-sama unik, perempuan maupun laki-laki sama-sam punya keunikan, dan mereka melekat jadi satu, ga bisa dipisahkan. Dan saya ingatkan, cinta adalah 1x1=1, bukan 1+1=2. Artinya ialah meskipun kita sering silang pendapat, tetapi tetap hasilnya harus satu, ga boleh dua, harus tetap solid jadi satu.
Orang-orang bilang “Jangan sama dia, mendingan sama yang ini” atau “Cakepan juga dia daripada si itu”, tapi kalau yang namanya sudah sayang, pasti ga mempan lagi tawar menawar macam di Pasar Ular. Orang-orang tua kadang ada pula yang sok bijak menasihati orang-orang muda, padahal dulu ketika muda pun mereka pernah tergila-gila sampai-sampai hampir menjadi benar-benar gila ketika sudah naksir dengan seseorang. See??? Sebaiknya jangan banyak bicara, ingat-ingat bagaimana ketika dulu Anda berada pada posisi orang yang Anda nasihati. Tapi ada juga yang berargumen “Ya saya kan menasihati agar dia ga mengulangi kebodohan saya ketika saya masih muda”, ya tapi nyatanya yang dinasihati toh tenang-tenang saja bahkan berlagak tuli, jadi percuma saja Anda bicara sampai berbusa.
Ga perlu dilanjutkan, tulisan ini biarlah tetap brekele seperti ini. I send my warm regards to abiy.
Kamis, 24 Juni 2010
Langganan:
Postingan (Atom)

