Kamis, 24 Juni 2010

d brekele

Saya merindukannya. Entahlah, apakah kata ini cocok untuk menggambarkan perasaan saya kepadanya saat ini. Rindu. Tapi mungkin ini terlalu absurb, rancu, dan sebenarnya tidak bisa menggambarkan peraasan saya secara tepat. Saya tak tahu. Yang saya tahu ialah dia tak membanggakan saya di depan orang banyak,tak seperti dua orang yang sudah membesarkan saya selama delapan belas tahun lebih. Ia hanya berujar “Aku bangga padamu” ketika saya ada di hadapannya ataupun ketika ia berbicara dengan saya, setidaknya setelah saya singgung masalah “Are you proud of me?”. Seperti yang sudah-sudah, dia pasti menjawab “Yes,” tapi sebenarnya tindak-tanduknya tidak menunjukkan hal itu. Mungkin memang sebaiknya tidak perlu terucap lewat bibirnya itu, tapi cukup lewat perbuatannya.
Orang-orang bilang love is blind,tapi sebenarnya love isn’t blind, love can see everything clearly, as clear as pure water. Cinta bisa memilih, mana yang saya sayangi dan mana yang tidak ingin saya sayangi. Nah kenapa orang bilang love is blind, itu adalah bagaimana cara menunjukkan cinta itu sendiri. Ketika kita sayang terhadap seseorang, kita akan bertingkah laku seperti orang buta yang tidak tahu harus belok ke kiri atau ke kanan, yang penting tongkat menunjuk pada jalan yang “sepertinya benar”. Ketika kita menyayangi seseorang, kadang dengan bodohnya kita berprinsip “I’m happy for your happiness”, meski terkadang kita tidak menyukai apa yang dilakukan atau diinginkan orang yang kita sayangi. Itulah yang namanya ‘love is blind”.
Saya ga suka bertele-tele tentang cinta. Ketika kamu mencintai atau menyayangi seseorang, buktikan. Puisi atau syair lagu hanyalah “garnish” , bukan main course. Apalagi rayuan gombal, that’s kinda bullshit.
Sekarang saya sedang merindukan seseorang yang sudah selama tiga tahun ini menemani susah senangnya saya dan saya temani ketika dia sedang susah atau senang. Mungkin saya yang salah, mungkin juga dia yang salah, atau mungkin malah kami berdua yang salah. Terakhir kali kontak dengan dia, saya malah bertengkar, hanya karena cemburu dia FBan dengan seorang wanita. Tolol benar saya. Tapi sebenarnya saya marah bukan karena itu, tapi saya marah karena dia ‘menduakan’ saya dalam semua aspek kehidupannya. Sial benar, padahal setiap hari yang ada di kepala saya hanya dia. Sungguh tidak adil, pikir saya ketika itu.
Saya sebenarnya iri, karena dia tidak kehilangan masa mudanya, sedangkan saya harus meringkuk di rumah layaknya calon mempelai wanita yang sedang dipingit. Sungguh itu tidak adil, ketika saya menunggu dia datang, tapi ternyata dia malah seliweran kemana saja seperti lalat yang puas mengitari Bantar Gebang.
Oke,oke, saya akan berhenti ngomel-ngomel tentang dia. Cukup sudah, saya tidak ingin kehilangan dia. Sepermilisekon pun saya tak sudi. Andai dia tahu betapa posesifnya saya. Ah tapi dia sudah tahu kok kalau saya (teramat sangat) posesif kepadanya.
Kalau boleh saya pergi dengan time machine, saya akan memperbaiki semuanya. Saya lebih baik menjodohkan dia dengan wanita lain ketimbang saya harus bersama dia, karena sampai saat ini tidak ada ujung yang baik bagi kami berdua. Ironis, ketika orang dengan gampangnya kawin cerai, kami malah harus backstreet bertahun-tahun untuk bisa mencapai kata “rumah tangga”. Ya tapi sejujurnyaa saya ga akan pernah ikhlas barang sepermiligram pun jika dia harus bersama-sama dengan orang lain.
Banyak kejadian yang termasuk memorable things rated. Bayar ongkos kurang, sampai harus berjalan kaki saking inginnya keluar berdua. Bahkan dia pernah sampai harus menjual handphonenya demi untuk dinner berdua. Hahaha dinnernya bukan di restoran mahal dan romantic, tapi dinner di tukang sate pinggir jalan!!  but it was fun, more fun than having dinner on a cruise.
Saya ingin dia membaca tulisan brekele ini. Semoga saja dia bersedia mengingat-ingat semua kejadian buruk berborok maupun kejadian baik yang menarik. Saya yakin dia ga akan pernah melupakan saya, karena sayalah yang membuat dia bisa menjadi seperti dia yang sekarang ini. Dan seharusnya dia yakin saya ga akan pernah melupakan dia, karena dialah yang membuat saya bisa menjadi seperti saya yang sekarang ini. Cinta itu adalah koin yang punya dua sisi, depan belakang sama-sama unik, perempuan maupun laki-laki sama-sam punya keunikan, dan mereka melekat jadi satu, ga bisa dipisahkan. Dan saya ingatkan, cinta adalah 1x1=1, bukan 1+1=2. Artinya ialah meskipun kita sering silang pendapat, tetapi tetap hasilnya harus satu, ga boleh dua, harus tetap solid jadi satu.
Orang-orang bilang “Jangan sama dia, mendingan sama yang ini” atau “Cakepan juga dia daripada si itu”, tapi kalau yang namanya sudah sayang, pasti ga mempan lagi tawar menawar macam di Pasar Ular. Orang-orang tua kadang ada pula yang sok bijak menasihati orang-orang muda, padahal dulu ketika muda pun mereka pernah tergila-gila sampai-sampai hampir menjadi benar-benar gila ketika sudah naksir dengan seseorang. See??? Sebaiknya jangan banyak bicara, ingat-ingat bagaimana ketika dulu Anda berada pada posisi orang yang Anda nasihati. Tapi ada juga yang berargumen “Ya saya kan menasihati agar dia ga mengulangi kebodohan saya ketika saya masih muda”, ya tapi nyatanya yang dinasihati toh tenang-tenang saja bahkan berlagak tuli, jadi percuma saja Anda bicara sampai berbusa.
Ga perlu dilanjutkan, tulisan ini biarlah tetap brekele seperti ini. I send my warm regards to abiy.

Rabu, 24 Maret 2010

Kisi Kisi Ujian Tengah Semester Dasar-Dasar Manajemen

Dear all my friends,
Dibawah ini adalah soal-soal yang akan keluar ketika UTS nanti, namun ini hanya pertanyaan esainya saja dan pililihan gandanya (10 soal) keluar nanti pada saat ujian berlangsung.

Soal-soal Ujian Tengah Semester: Dasar-dasar Manajemen – Genap 2009-2010

1.Jelaskan siapa manajer, apa yang dikerjakan oleh manajer dan apa keterkaitan manajemen dengan manajer dalam organisasi bisnis. Berikan contoh (15%).?

2.Saudara diminta untuk menjelaskan manajemen secara praktis berdasarkan pada: Scientific management, General adminsitrative theory dan quantitatiove approach to management. (20%).?

3.Jelaskan pendekatan kontigensi dalam manajemen teori. Berikan contoh. (15%)

4.Saudara diminta untuk menjelaskan budaya organisasi secara komprehensif dalam organisasi bisnis. Berikan contoh. (20%)./

5.Jelaskan karakteristik dari budaya etikal, budaya inovative, dan customer responsive culture dalam organisasi bisni. (20%).?

6.Saudara diminta untuk menjelaskan perbedaan dalam manajemen pada lingkungan global berupa: sikap contrast ethnocentric, polycentric dan geocentric terhadap bisnis global, berikan contoh, (20%)./

7.Jelaskan peranan stakeholders dalam 4 tahap social responsibility dan perbedaan antara social obligation, social responsiveness dan social responsibility. (20%).?

8.Jelaskan hubungan antara value based management terhadap ethics dan faktor-faktor yang mempengaruhi employee ethics.(20%).?

9.Jelaskan perbedaan antara informan dan formal planning dan bagaimana hubungan anatara perencanaan dengan kinerja (performance). (20%).?

10.Saudara diminta untuk menjelaskan definisi dari manajemen stratejik, strategy, and business model dan jelaskan pentingnya stratejik manajemen. (20%).?



SELAMAT BEKERJA


Notes :

Kemungkinan UTS akan dilaksanakan minggu depan, tapi untuk kepastiannya saya kabari lagi nanti secepatnya dan Pak Iyus menyarankan belajar saja untuk persiapan besok karena siapa tahu besok langsung ujian.

Jumat, 04 Desember 2009

Notes'

A2DC

( Ada A-Bank Di Cerpenku )

Sore itu nampak begitu cerah, udaranya segar dan hamparan sawah hijau membentang sejauh mata ini memandang, membuat siapapun yang melihat tak pernah bosan tuk menikmati keindahannya. Itulah suasana Kampung Langensari di sore hari, kampung halamanku yang letaknya tak jauh dari kaki Gunung Gede Pangrango yang indah.

Hari ini adalah hari pertama kepulanganku dari Jakarta, setelah sekian lama terbelenggu dengan sejuta rutinitasku menimba ilmu, kini saatnya aku melepas semua kepenatan itu dengan berkumpul dan menikmati liburan ini bersama keluarga tercinta. Sore hari memang waktu yang istimewa buatku, karena sejak kecil hingga sekarang kebiasaan masyarakat di kampungku tidak pernah mengalami perubahan sedikitpun, walaupun diluar sana banyak hal yang berubah karena tergerus derasnya arus modernisasi namun masyarakat sekitar tetap memegang teguh kebiasaan sosial yang mereka lakukan sejak dahulu kala sampai sekarang ini. Di sore hari biasanya anak-anak, remaja, ibu, bapak, kakek, nenek, tua, muda setelah mandi sore dan melaksanakan shalat ashar, biasanya mereka mengenakan pakaian terbaiknya dan duduk-duduk di depan halaman rumah sembari mengawasi anak-anak bermain bersama-sama. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan untuk mempererat jalinan silaturahmi dan biasanya digunakan juga sebagai ajang bertukar pikiran, curhat, ngerumpi dan berbagi pengalaman setelah seharian mereka melakukan rutinitasnya sambil menunggu waktu maghrib tiba.

Tak mau kalah, setelah mandi dan shalat ashar aku mengajak Ibu untuk sekedar duduk-duduk di kursi kayu yang Bapak buat di halaman rumah, sembari menyapa dan menyalami setiap tetangga yang lalu-lalang, sambil terkadang Ibu mengajak mereka untuk sekedar ngobrol menanyakan kondisi keluarga mereka. Selang beberapa lama terdengar dari kejauhan suara sepeda motor yang melaju ke arah kami, semakin dekat dan kemudian berhenti tepat di depan rumah, yang ternyata Bang Anto dan Mba Surti anak Pak. Kosim temannya Bapak.

Assalamu’alaikum..., apa kabar Bu, Mas?” sapa mereka sembari menyalami kami berdua.

Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah baik Bang, Mba.” Sahutku.

“Lagi liburan ya Mas?kapan sampai?Wah pangling ya, putihan sekarang kalau tinggal di Jakarta?” Tanya Bang Anto sambil duduk di sampingku dan menepuk-nepuk pundakku. Hm.. putihan?? Gak salah Bang?? Kupikir, kulitku malah kini semakin terlihat jauh lebih gelap atau mungkin aku memang putih tapi sedikit putih tua. Atau malah bisa jadi lagi, kalau aku ini benar- benar putih. Eit tapi tetap aku tidak akan mengatakan hal itu padanya, dia bukan tipe orang yang suka becanda juga tuh. Gerutu hatiku.

“Ah Si Abang nih bisa aja, iya aku lagi liburan dan baru sampai tadi malam.” Jawabku sambil tersenyum menutupi segala pemikiran vs kata hati tentang putihnya kulitku.

“Motor baru ya Bang?” tanyaku sembari melihat-lihat motor Bang Anto yang masih terlihat menggoda.

“Iya, Abang baru beli seminggu yang lalu, itu juga dapat pinjaman uang dari Bank, karena bunganya murah lantas waktu itu Abang pinjam uang ke salah satu Bank dekat Kecamatan dengan mengagunkan sertifikat sawah milik Bapak. Ya itu juga Abang lakukan karena Abang sudah tak kuat untuk terus jalan kaki dan naik turun kendaraan umum kalau pulang atau pergi kerja, kan tempat kerja Abang jauh Mas.”

“Ya, beberapa Bank memang menawarkan kredit konsumsi dengan bunga yang kecil. Itu sangat menguntungkan kita Bang, untung saja Abang tidak ketinggalan informasi jadi bisa buru- buru pinjam deh. Tapi Abang jangan senang dulu lho, karena di sisi lain Abang sudah ikut berpartisipasi membuat beberapa pihak rugi dan kehilangan kesempatan sebenarnya. ”

“Lho, siapa yang Abang rugikan Mas? Abang gak mengerti maksudmu? Kan pinjamannya pasti Abang bayar.” Tanya Bang Anto penasaran.

“Begini Bang, kita tahu sekarang ini banyak sekali orang yang punya sepeda motor kan? gampang pula cara memperolehnya, hanya dengan pinjam uang ke Bank beres semua permasalahan. Disamping itu Abang juga tentu tau, di luar sana banyak usaha-usaha kecil dan menengah yang gulung tikar, mereka bangkrut karena kehabisan modal dan sulit mendapatkan subsidi ataupun pinjaman. Seperti apa yang dialami Toko Kerajinan Kulit Pa Kasman. Abang Tau kenapa?”

“Tidak Mas. Memangnya kenapa?” Tanya Bang Anto semakin penasaran.

“Semua itu terjadi karena kebanyakan bank yang ada di kota-kota besar atau di daerah terlalu memprioritaskan dana pinjaman itu hanya kepada sektor-sektor kunsumtif, seperti pembelian barang mewah, rumah dan kendaraan bermotor seperti yang sudah Abang lakukan sebelumnya. Dan juga kebanyakan bank tidak menerapkan aturan atau kebijakan yang selektif mengenai proses peminjaman uang, oleh siapa dan untuk siapa. Karena terlalu longgar akhirnya banyak orang berbondong-bondong datang ke bank meminjam uang hanya untuk keperluan konsumsi mereka. padahal disamping itu para pelaku usaha kecil dan menengahlah yang sebenarnya dirugikan dan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan roda usaha mereka, karena hampir kebanyakan dana stimulan yang ada di bank dialokasikan pada sektor yang salah dan mereka kesulitan mendapatkan dana yang tinggal sedikit itu karena aturan yang berbelit-belit. Akhirnya usaha mereka bangkrut dan ujung-ujungnya PHK, banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan bertambahlah pengangguran. Ya kalo menurutku untuk menyelesaikan permasahan ini hanya pihak Bank-lah yang seharusnya mampu mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang obyektif dan tidak berorientasi pada keuntungan semata tetapi berorientasi kepada perekonomian masyarakat sehingga kebijakan itu nantinya bisa mendorong roda perekonomian menjadi berkembang bahkan lebih maju. Nah itu maksud dari kata-kataku tadi Bang.”

“Ooo begitu ya, Abang jadi mengerti sekarang Mas. Kamu memang cerdas, tak salah Ibumu menyekolahkanmu jauh-jauh ke Jakarta. Abang bangga sama kamu Mas.” Ujar Bang Anto sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Itu semua aku dapatkan dari membaca koran hari ini Bang. Itulah gunanya membaca, pengetahuan kita jadi bertambah. Coba deh Abang baca koran hari ini, ada sebuah artikel yang judulnya “Tanda – tanda kematian sektor riil di Indonesia” , itu bagus kalau kita baca.” Jawabku sambil tersenyum.

“Betul Mas, aku setuju. Harusnya Abang banyak membaca dari dulu, pasti hal-hal seperti apa yang kamu katakan tadi akan Abang tahu sebelumnya. Hmm mulai sekarang Abang akan mulai rajin membaca deh supaya cerdas seperti kamu Mas.” Ujarnya tersenyum sambil menyenggolku.

Langit mulai memerah, sahut azan menggema dimana-mana. Tak terasa waktu maghrib telah tiba. Kemudian kami sudahi perbincangan seru pada sore itu. Mesin motor pun menyala, aku dan Bang Anto kemudian berangkat ke mesjid bersama-sama. Sungguh sore yang indah dan tak mungkin aku lupa.

.

Rabu, 21 Oktober 2009

Notes'

Pematung Raja

Suatu ketika, hiduplah seorang pematung. Pematung ini, bekerja pada seorang raja yang masyhur dengan tanah kekuasaannya. Wilayah pemerintahannya sangatlah luas. Hal itu membuat siapapun yang mengenalnya, menaruh hormat pada raja ini.

Sang pematung, sudah lama sekali bekerja pada raja ini. Tugasnya adalah membuat patung-patung yang diletakkan menghiasi taman-taman istana. Pahatannya indah, karena itulah, ia menjadi kepercayaan raja itu sejak lama. Ada banyak raja-raja sahabat yang mengagumi keindahan pahatannya saat mengunjungi taman istana.

Suatu hari, sang raja mempunyai rencana besar. Baginda ingin membuat patung dari
seluruh keluarga dan pembantu-pembantu terbaiknya. Jumlahnya cukup banyak, ada
100 buah. Patung-patung keluarga raja akan di letakkan di tengah taman istana,
sementara patung prajurit dan pembantunya akan di letakkan di sekeliling taman.
Baginda ingin, patung prajurit itu tampak sedang melindungi dirinya.


Sang pematung pun mulai bekerja keras, siang dan malam. Beberapa bulan kemudian,
tugas itu hampir selesai. Sang Raja kemudian datang memeriksa tugas yang di
perintahkannya. “Bagus. Bagus sekali, ujar sang Raja. “Sebelum aku lupa, buatlah
juga patung dirimu sendiri, untuk melengkapi monumen ini.”

Mendengar perintah itu, pematung ini pun mulai bekerja kembali. Setelah beberapa
lama, ia pun selesai membuat patung dirinya sendiri. Namun sayang, pahatannya
tak halus. Sisi-sisinya pun kasar tampak tak dipoles dengan rapi. Ia berpikir,
untuk apa membuat patung yang bagus, kalau hanya untuk di letakkan di luar
taman. “Patung itu akan lebih sering terkena hujan dan panas,” ucapnya dalam
hati, pasti, akan cepat rusak.”

Waktu yang dimintapun telah usai. Sang raja kembali datang, untuk melihat
pekerjaan pematung. Ia pun puas. Namun, ada satu hal kecil yang menarik
perhatiannya. “Mengapa patung dirimu tak sehalus patung diriku? Padahal, aku
ingin sekali meletakkan patung dirimu di dekat patungku. Kalau ini yang terjadi,
tentu aku akan membatalkannya, dan menempatkan mu bersama patung prajurit yang
lain di depan sana.”

Menyesal dengan perrbuatannya, sang pematung hanya bisa pasrah. Patung dirinya,
hanya bisa hadir di depan, terkena panas dan hujan, seperti harapan yang
dimilikinya.

***

Teman, seperti apakah kita menghargai diri sendiri? Seperti apakah kita
bercermin pada diri kita? Bagaimanakah kita menempatkan kebanggaan atas diri
kita? Ada kalanya memang, ada orang-orang yang selalu pesimis dengan dirinya
sendiri. Mereka, kerap memandang rendah kemuliaan yang mereka miliki.

Namun, apakah kita mau dimasukkan ke dalam bagian itu. Saya percaya, tak banyak
orang yang menghendaki dirinya mau dimasukkan sebagai orang yang pesimis. Kita
akan lebih suka menjadi orang yang bernilai lebih. Sebab, Allah pun menciptakan
kita tak dengan cara yang main-main. Allah menciptakan kita dengan kemuliaan
mahluk yang sempurna.

Dan teman, sesungguhnya, kita sedang memahat patung diri kita saat ini. Tapi
patung seperti apakah yang sedang kita buat? Patung yang kasar, yang tak halus
pahatannya, ataukah patung yang indah, yang memancarkan kemuliaan-Nya? Patung
yang bernilai mahal, yang menjadi hiasan terindah, atau patung yang berharga
murah yang tak layak diletakkan di tempat utama?

Memang, tak ada yang tahu akan ditempatkan dimana patung-patung diri kita kelak.
Karena hanya Allah lah Maha Tahu. Karenanya, bentuklah patung-patung itu dengan
indah. Pahatlah dengan halus, agar kita bisa ditempatkan di tempat yang terbaik,
di sisi-Nya. Poleslah setiap sisinya dengan kearifan budi, dan kebijakan hati,
agar memancarkan keindahan. Susuri setiap lekuknya dengan kesabaran, dan
keikhlasan.

Pahatan yang kita torehkan saat ini, akan menentukan tempat kita di akhirat
kelak. Bentuklah “patung” diri kita dengan indah!

Notes'

Harimau dan serigala

Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan. Luka yang di derita serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari perkampungan penduduk.

Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu, di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit, sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan. Sang harimau paham, bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok gua.

Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus dari semua pelajaran yang diberikan olehnya. Pada awalnya banyak yang takut, namun setelah di tantang, mereka semua mau untuk ikut.

Di pagi hari, berangkatlah mereka semua. Semuanya tampak beriringan, dipandu sang pertapa yang berjalan di depan rombongan. Setelah seharian berjalan, sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap. Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan sebongkah daging kepada serigala. Melihat kejadian itu, sang pertapa bertanya bertanya kepada murid-muridnya, “Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari sana..?”.

Seorang murid tampak angkat bicara, “Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena itu, lebih baik aku berdiam saja, karena toh Tuhan akan selalu memberikan rezekinya kepada ku lewat berbagai cara.” Sang pertapa tampak tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, “Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan.” Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya. “Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau.”

**

Adalah benar bahwa Tuhan ciptakan ikan kepada umat manusia. Adalah benar pula, Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, adakah Dia berikan kepada kita gandum-gandum itu hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya, ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan. Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.

Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika disana kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang dari Tuhan. Dari sana pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun, ada satu hal kecil yang patut diingat disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu adalah suatu keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin membalas budi.

Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Disana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab disana, akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Di dalam berbagi akan bersemayan keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan kalbu. Teman, jika kita bisa memilih, berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh, dan mulailah meniru teladan harimau.

Selasa, 20 Oktober 2009

Notes'

Ketelitian

Di sebuah ruang kuliah, seorang profesor kedokteran memberikan kuliah perdananya. Para mahasiswa baru itu tampak serius. Mata mereka terpaku menatap profesor, seraya tangan sibuk mencatat.



“Menjadi dokter, butuh keberanian dan ketelitian,” terdengar suara sang profesor. “Dan saya harap kalian dapat membuktikannya.” Bapak itu beranjak ke samping.
“Saya punya setoples cairan limpa manusia yang telah direndam selama 3 bulan.” Profesor itu mencelupkan jari ke dalam toples, dan memasukkan jari itu ke mulutnya. Terdengar teriak-teriak kecil dari mahasiswa itu. Mereka terlihat jijik. “Itulah yang kusebut dengan keberanian dan ketelitian,” ucap profesor lebih meyakinkan.



“Saya butuh satu orang yang bisa berbuat seperti saya. Buktikan bahwa kalian ingin menjadi dokter.” Suasana aula mendadak senyap. Mereka bingung: antara jijik dan tantangan sebagai calon dokter. Tak ada yang mengangkat tangan. Sang profesor berkata lagi, “Tak adakah yang bisa membuktikan kepada saya? Mana keberanian dan ketelitian kalian?


Tiba-tiba, seorang anak muda mengangkat tangan. “Ah, akhirnya ada juga yang berani. Tunjukkan pada teman-temanmu bahwa kau punya keberanian dan ketelitian.รข€ Anak muda itu menuruni tangga, menuju mimbar tempat sang professor berada. Dihampirinya stoples itu dengan ragu-ragu. Wajahnya tegang, dan perasaan jijik terlihat dari air mukanya.


Ia mulai memasukkan jarinya ke dalam toples. Kepala menoleh ke samping dengan mata yang menutup. Teriakan kecil rasa jijik kembali terdengar. Perlahan, dimasukkannya jari yang telah tercelup lendir itu ke mulutnya. Banyak orang yang menutup mata, banyak pula yang berlari menuju kamar kecil. Sang professor tersenyum. Anak muda itu tersenyum kecut, sambil meludah-ludah ke samping.


“Aha, kamu telah membuktikan satu hal, anak muda. Seorang calon dokter memang harus berani. Tapi sayang, dokter juga butuh ketelitian.” Profesor itu menepuk punggung si mahasiswa. “Tidakkah kau lihat, aku tadi memasukkan telunjuk ke toples, tapi jari tengah yang masuk ke mulut. Seorang dokter memang butuh keberanian, tapi lebih butuh lagi ketelitian.”



***

Tantangan hidup, kadangkala bukan untuk menghadapi kematian. Tapi, justru bagaimana menjalani kehidupan. Banyak orang yang takut mati. Tapi, tidak sedikit yang memilih mati ketimbang hidup. Banyak yang menghabisi hidup pada jalan-jalan tercela. Banyak pula yang enggan hidup hanya karena beratnya beban kehidupan.


Ujaran profesor itu memang benar. Tantangan menjadi seorang dokter-dan sesungguhnya, menjadi manusia-adalah dibutuhkannya keberanian dan ketelitian. Bahkan, tantangan itu lebih dari sekadar mencicipi rasa cairan limpa di toples. Lebih berat. Jauh lebih berat. Dalam kehidupan, apa yang kita alami kadang lebih pahit dan menegangkan. Namun, bagi yang teliti, semua bisa jadi manis, menjadi tantangan yang mengasyikkan. Di sanalah ditemukan semua rasa, rupa dan suasana yang mendidik. Dan mereka dapat dengan teliti memilah dan memilih.

Teman, hati-hatilah. Hidup memang butuh keberanian. Tapi, akan lebih butuh ketelitian. Cermati langkahmu, waspadai tindakanmu. Hati-hati saat “mencelupkan jari” dalam toples kehidupan. Kalau tidak, “rasa pahit” yang akan kita temukan.



Terima kasih telah membaca.

Hope you are well and please do take care

Notes'

Sayap Kerdil

Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya.

Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya.

Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih.


Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?”
Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.”

Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan.Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat.