A2DC
( Ada A-Bank Di Cerpenku )
Sore itu nampak begitu cerah, udaranya segar dan hamparan sawah hijau membentang sejauh mata ini memandang, membuat siapapun yang melihat tak pernah bosan tuk menikmati keindahannya. Itulah suasana Kampung Langensari di sore hari, kampung halamanku yang letaknya tak jauh dari kaki Gunung Gede Pangrango yang indah.
Hari ini adalah hari pertama kepulanganku dari Jakarta, setelah sekian lama terbelenggu dengan sejuta rutinitasku menimba ilmu, kini saatnya aku melepas semua kepenatan itu dengan berkumpul dan menikmati liburan ini bersama keluarga tercinta. Sore hari memang waktu yang istimewa buatku, karena sejak kecil hingga sekarang kebiasaan masyarakat di kampungku tidak pernah mengalami perubahan sedikitpun, walaupun diluar sana banyak hal yang berubah karena tergerus derasnya arus modernisasi namun masyarakat sekitar tetap memegang teguh kebiasaan sosial yang mereka lakukan sejak dahulu kala sampai sekarang ini. Di sore hari biasanya anak-anak, remaja, ibu, bapak, kakek, nenek, tua, muda setelah mandi sore dan melaksanakan shalat ashar, biasanya mereka mengenakan pakaian terbaiknya dan duduk-duduk di depan halaman rumah sembari mengawasi anak-anak bermain bersama-sama. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan untuk mempererat jalinan silaturahmi dan biasanya digunakan juga sebagai ajang bertukar pikiran, curhat, ngerumpi dan berbagi pengalaman setelah seharian mereka melakukan rutinitasnya sambil menunggu waktu maghrib tiba.
Tak mau kalah, setelah mandi dan shalat ashar aku mengajak Ibu untuk sekedar duduk-duduk di kursi kayu yang Bapak buat di halaman rumah, sembari menyapa dan menyalami setiap tetangga yang lalu-lalang, sambil terkadang Ibu mengajak mereka untuk sekedar ngobrol menanyakan kondisi keluarga mereka. Selang beberapa lama terdengar dari kejauhan suara sepeda motor yang melaju ke arah kami, semakin dekat dan kemudian berhenti tepat di depan rumah, yang ternyata Bang Anto dan Mba Surti anak Pak. Kosim temannya Bapak.
“Assalamu’alaikum..., apa kabar Bu, Mas?” sapa mereka sembari menyalami kami berdua.
“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah baik Bang, Mba.” Sahutku.
“Lagi liburan ya Mas?kapan sampai?Wah pangling ya, putihan sekarang kalau tinggal di Jakarta?” Tanya Bang Anto sambil duduk di sampingku dan menepuk-nepuk pundakku. Hm.. putihan?? Gak salah Bang?? Kupikir, kulitku malah kini semakin terlihat jauh lebih gelap atau mungkin aku memang putih tapi sedikit putih tua. Atau malah bisa jadi lagi, kalau aku ini benar- benar putih. Eit tapi tetap aku tidak akan mengatakan hal itu padanya, dia bukan tipe orang yang suka becanda juga tuh. Gerutu hatiku.
“Ah Si Abang nih bisa aja, iya aku lagi liburan dan baru sampai tadi malam.” Jawabku sambil tersenyum menutupi segala pemikiran vs kata hati tentang putihnya kulitku.
“Motor baru ya Bang?” tanyaku sembari melihat-lihat motor Bang Anto yang masih terlihat menggoda.
“Iya, Abang baru beli seminggu yang lalu, itu juga dapat pinjaman uang dari Bank, karena bunganya murah lantas waktu itu Abang pinjam uang ke salah satu Bank dekat Kecamatan dengan mengagunkan sertifikat sawah milik Bapak. Ya itu juga Abang lakukan karena Abang sudah tak kuat untuk terus jalan kaki dan naik turun kendaraan umum kalau pulang atau pergi kerja, kan tempat kerja Abang jauh Mas.”
“Ya, beberapa Bank memang menawarkan kredit konsumsi dengan bunga yang kecil. Itu sangat menguntungkan kita Bang, untung saja Abang tidak ketinggalan informasi jadi bisa buru- buru pinjam deh. Tapi Abang jangan senang dulu lho, karena di sisi lain Abang sudah ikut berpartisipasi membuat beberapa pihak rugi dan kehilangan kesempatan sebenarnya. ”
“Lho, siapa yang Abang rugikan Mas? Abang gak mengerti maksudmu? Kan pinjamannya pasti Abang bayar.” Tanya Bang Anto penasaran.
“Begini Bang, kita tahu sekarang ini banyak sekali orang yang punya sepeda motor kan? gampang pula cara memperolehnya, hanya dengan pinjam uang ke Bank beres semua permasalahan. Disamping itu Abang juga tentu tau, di luar sana banyak usaha-usaha kecil dan menengah yang gulung tikar, mereka bangkrut karena kehabisan modal dan sulit mendapatkan subsidi ataupun pinjaman. Seperti apa yang dialami Toko Kerajinan Kulit Pa Kasman. Abang Tau kenapa?”
“Tidak Mas. Memangnya kenapa?” Tanya Bang Anto semakin penasaran.
“Semua itu terjadi karena kebanyakan bank yang ada di kota-kota besar atau di daerah terlalu memprioritaskan dana pinjaman itu hanya kepada sektor-sektor kunsumtif, seperti pembelian barang mewah, rumah dan kendaraan bermotor seperti yang sudah Abang lakukan sebelumnya. Dan juga kebanyakan bank tidak menerapkan aturan atau kebijakan yang selektif mengenai proses peminjaman uang, oleh siapa dan untuk siapa. Karena terlalu longgar akhirnya banyak orang berbondong-bondong datang ke bank meminjam uang hanya untuk keperluan konsumsi mereka. padahal disamping itu para pelaku usaha kecil dan menengahlah yang sebenarnya dirugikan dan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan roda usaha mereka, karena hampir kebanyakan dana stimulan yang ada di bank dialokasikan pada sektor yang salah dan mereka kesulitan mendapatkan dana yang tinggal sedikit itu karena aturan yang berbelit-belit. Akhirnya usaha mereka bangkrut dan ujung-ujungnya PHK, banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan bertambahlah pengangguran. Ya kalo menurutku untuk menyelesaikan permasahan ini hanya pihak Bank-lah yang seharusnya mampu mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang obyektif dan tidak berorientasi pada keuntungan semata tetapi berorientasi kepada perekonomian masyarakat sehingga kebijakan itu nantinya bisa mendorong roda perekonomian menjadi berkembang bahkan lebih maju. Nah itu maksud dari kata-kataku tadi Bang.”
“Ooo begitu ya, Abang jadi mengerti sekarang Mas. Kamu memang cerdas, tak salah Ibumu menyekolahkanmu jauh-jauh ke Jakarta. Abang bangga sama kamu Mas.” Ujar Bang Anto sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Itu semua aku dapatkan dari membaca koran hari ini Bang. Itulah gunanya membaca, pengetahuan kita jadi bertambah. Coba deh Abang baca koran hari ini, ada sebuah artikel yang judulnya “Tanda – tanda kematian sektor riil di Indonesia” , itu bagus kalau kita baca.” Jawabku sambil tersenyum.
“Betul Mas, aku setuju. Harusnya Abang banyak membaca dari dulu, pasti hal-hal seperti apa yang kamu katakan tadi akan Abang tahu sebelumnya. Hmm mulai sekarang Abang akan mulai rajin membaca deh supaya cerdas seperti kamu Mas.” Ujarnya tersenyum sambil menyenggolku.
Langit mulai memerah, sahut azan menggema dimana-mana. Tak terasa waktu maghrib telah tiba. Kemudian kami sudahi perbincangan seru pada sore itu. Mesin motor pun menyala, aku dan Bang Anto kemudian berangkat ke mesjid bersama-sama. Sungguh sore yang indah dan tak mungkin aku lupa.
.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar